Kitaharus siap mengampuni orang lain yang mengaku dosanya dan bertobat (Matius 6:14-15; 18:23-35; Efesus 4:31-32; Kolose 3:13). Ini bukan hanya kewajiban kita, melainkan kesenangan kita. Jika kita memang benar mensyukuri pengampunan Allah, maka seharusnya kita tidak ragu mengampuni orang lain yang bertobat, walaupun orang itu berulang kali
Diantaranya 1) Orang yang tinggal di dalam Kristus wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh 2:6). 2) Ia harus menuruti segala perintah-Nya (1 Yoh. 3:24) 3) Tinggal di dalam Kristus terpancar dalam kasih yang sempurna, karena hal itu tak lain dari kasih Allah sendiri di dalam kita (1 Yoh. 4:12).
Ketikakita memberikan pengampunan, kita telah melakukan apa yang Allah minta. Kita bertanggung jawab untuk tindakan kita sendiri. Jika perasaan tertolak melumpuhkan pengampunan kita, kita harus melihat kehidupan Kristus untuk mendapatkan inspirasi dan pengarahan. "Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni
Mengampuniartinya kita memaafkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak mengungkit kesalahan itu lagi. Pada kenyataannya cukup sulit untuk melakukannya. Mengapa? Karena setiap orang memiliki sifat egois atau keakuan yang cenderung menempatkan dirinya sebagai orang yang paling benar sedangkan orang lain selalu menjadi pihak yang
. SURAT GEMBALA Minggu, 28 JUNI 2020 SALING MENGAMPUNI “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan SALING MENGAMPUNI, SEBAGAIMANA ALLAH DIDALAM KRISTUS TELAH MENGAMPUNI KAMU.” Efesus 4 32 Mengampuni adalah suatu perintah Tuhan untuk dilakukan, bukan hanya himbauan untuk dipertimbangkan. Namun, mengampuni bukanlah sifat bawaan lahir manusia. Manusia dilahirkan dengan sifat BALAS DENDAM. Manusia cendrung membalas yang baik dengan yang baik serta membalas yang jahat dengan yang jahat, bahkan kalau bisa dengan cara yang lebih jahat. Namun Yesus memerintahkan hal yang sebaliknya. Matius 5 44 Tetapi Aku berkata kepadamu Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Artinya, pengampunan tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang sekali-sekali berbuat jahat, tetapi orang yang melakukannya berulang-ulang. Dalam Matius 18 22 Yesus berkata, bukan tujuh kali, tetapi tujuhpuluh kali tujuh kali. Sulit untuk dipahami, apalagi dilakukan secara manusia. Akan tetapi setiap PERINTAH yang diberikan oleh Tuhan apabila dilakukan dengan penuh ketaatan, PASTI akan membawa kebaikan bagi kita. Berbicara tentang mengampuni, kita harus memahami apa sesungguhnya arti mengampuni. Mengampuni bukanlah tindakan Menyetujui, menganggap sepele dan biasa perbuatan yang salah. Pengampunan bukan juga tindakan MELUPAKAN atau menganggap TIDAK ADA pelanggaran. Raja Daud DIAMPUNI DOSANYA tetapi dia harus menanggung AKIBAT DOSANYA. Mengampuni bukan juga tindakan MEMBIARKAN ORANG LAIN MEMANFAATKAN KITA. Kita tidak hanya ASAL MEMAAFKAN. Tuhan tidak akan mengampuni orang yang SENGAJA melakukan kesalahan dan TIDAK MAU BERTOBAT dan mengakui kesalahan. Orang seperti itu akan menjadi MUSUH ALLAH Mazmur 139 22. Ingatlah, KASIH DIBERIKAN TANPA SYARAT, TETAPI PENGAMPUNAN MEMERLUKAN SYARAT. I Yohanes 1 9 “ JIKA KITA MENGAKU DOSA KITA, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni SEGALA DOSA kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Artinya, Tuhan MENGASIHI orang yang berdosa, apapun dosanya, tetapi Tuhan HANYA AKAN MENGAMPUNI orang yang MENGAKU DOSANYA. Mengampuni adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan, tetapi dengan pertolongan Tuhan PASTI DAPAT kita lakukan. Mengapa kita HARUS mengampuni 1. Karena Tuhan TELAH MENGAMPUNI kita Efesus 4 32 , 2. Sebagai bukti kita TELAH MENGALAMI PENGAMPUNAN dari Tuhan Lukas 7 47, 3. Syarat bagi Allah untuk mengampuni kita Matius 6 14-15. Lalu BAGAIMANA AGAR KITA DAPAT MENGAMPUNI 1. Kita HARUS SUDAH menerima kasih dan pengampunan dari Tuhan, 2. Memiliki KASIH terhadap orang yang berdosa Lukas 23 34, 3. Ingat bahwa Allah SELALU SIAP MENGAMPUNI orang berdosa yang bertobat I Yohanes 1 9. Selanjutnya, apakah manfaat mengampuni bagi keluarga ? Pengampunan yang dilakukan dengan tulus akan membawa manfaat bagi keluarga, yaitu 1. Supaya ibadah kita tidak terganggu Matius 6 23-24, 2. Agar seisi keluarga kita DIAMPUNI oleh Tuhan Matius 6 15, 3. Mengampuni akan memulihkan kehidupan Jasmani dan Rohani Ayub 42 10, 4. Mengampuni artinya TIDAK MEMBERI KESEMPATAN kepada Iblis Efesus 4 26-27. Pertanyaan Apakah kita SALING MENGAMPUNI atau SALING MENGHAKIMI dalam keluarga kita hari ini. Kita TIDAK MUNGKIN DAPAT MENGAMPUNI kalau kita TIDAK MENGASIHI. Apakah kita sungguh MENGASIHI keluarga kita, atau sekedar MENCINTAI mereka. Selamat hari minggu, selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati….. Oleh Pdt. Rustam Miling,
Pertanyaan Jawaban Ungkapan "mengampuni dan melupakan" tidak ditemukan secara harafiah dalam Alkitab. Namun terdapat berbagai ayat yang memerintah supaya kita "saling mengampuni" Matius 614; Efesus 432, dsb. Seorang Kristen yang tidak mau mengampuni orang lain, persekutuannya dengan Allah akan terhambat Matius 615 dan hanya menuai kepahitan serta kehilangan pahala Ibrani 1214-15; 2 Yohanes 18. Pengampunan merupakan keputusan kehendak. Karena Allah memerintahkan supaya kita mengampuni, maka kita harus memilih untuk menaati Allah dan mengampuni. Pihak yang bersalah mungkin tidak ingin diampuni dan bahkan tidak pernah berubah, namun hal ini tidak membatalkan keinginan Allah supaya kita memiliki roh yang mengampuni Matius 544. Adalah ideal jika yang bersalah berupaya memulihkan hubungan, namun, jika tidak, orang yang disalahi tetap dapat memilih untuk mengampuni. Tentunya mustahil untuk benar-benar melupakan dosa yang telah dilakukan terhadap kita. Kita tidak dapat menghapus peristiwa-peristiwa khusus dari ingatan kita. Alkitab menyatakan bahwa Allah tidak lagi "mengingat" kejahatan kita Ibrani 812. Akan tetapi Allah tetap MahaTahu. Allah mengingat bahwa kita telah "telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" Roma 323. Akan tetapi, karena telah diampuni, secara kedudukan kita telah dibenarkan. Surga adalah milik kita, seolah-olah dosa kita tidak pernah terjadi. Jika kita merupakan milik-Nya melalui iman dalam Kristus, Allah tidak menghukum kita atas dosa kita Roma 81. Dalam pengertian itu Allah "mengampuni dan melupakan." Jika dengan "mengampuni dan melupakan" yang kita maksud adalah "Saya memilih untuk mengampuni orang yang bersalah karena Kristus dan melanjutkan hidup saya," maka ini adalah tindakan yang bijak dan saleh. Semampu mungkin, kita perlu melupakan apa yang telah terjadi dan mengejar tujuan-Nya Filipi 313. Kita perlu saling mengampuni "sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" Efesus 432. Kita tidak boleh membiarkan akar kepahitan berdiam di dalam hati kita Ibrani 1215. Akan tetapi, jika dengan "mengampuni dan melupakan" kita bermaksud, "Saya akan bertindak seolah-olah dosa itu tidak pernah terjadi dan hidup tanpa mengingatnya,"maka kita akan menjumpai persoalan. Sebagai contoh, seorang korban perkosaan dapat memilih untuk mengampuni pemerkosanya, namun itu tidak berarti ia seharusnya berperilaku seolah-olah dosa itu tidak pernah terjadi. Menghabiskan waktu sendirian dengan pemerkosanya, terutama jika ia tidak bertobat, bukanlah tindakan yang alkitabiah. Pengampunan pada hakekatnya adalah melepaskan hutang dosa seseorang, namun pengampunan lain sifatnya dengan kepercayaan. Mengambil langkah-langkah pencegahan adalah bijak, dan dinamika hubungan kadang harus berubah. "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" Amsal 223. Yesus menghimbau supaya para pengikut-Nya "hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" Matius 1016. Dalam konteks berhubungan dengan orang berdosa yang tidak bertobat, kita harus "tulus" siap mengampuni tetapi sekaligus "cerdik" berwaspada. Yang ideal adalah mengampuni dan melupakan. Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain 1 Korintus 135 dan menutupi banyak dosa 1 Petrus 48. Mengubah hati orang adalah urusan Allah, dan sampai di saat pihak yang bersalah mengalami perubahan hati yang sejati dan supranatural, adalah bijak untuk membatasi kepercayaan yang diberikan pada orang itu. Bersifat waspada bukan berarti kita belum mengampuni. Artinya adalah bahwa kita bukan Allah dan kita tidak dapat mengamati kondisi hati orang itu. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apakah Alkitab memerintahkan supaya kita mengampuni dan melupakan?
1-3. a Beban berat apa yang ditanggung oleh pemazmur Daud, dan bagaimana dia menemukan penghiburan bagi hatinya yang gundah? b Jika kita berbuat dosa, beban apa yang mungkin harus kita tanggung sebagai akibatnya, tetapi sehubungan dengan hal apa Yehuwa meyakinkan kita? ”KESALAHAN-KESALAHANKU membanjiri aku,” tulis pemazmur Daud. ”Seperti beban berat yang tak sanggup kutanggung. Aku mati rasa dan benar-benar remuk.” Mazmur 384, 8 Daud mengetahui betapa beratnya beban hati nurani yang bersalah. Tetapi, dia menemukan penghiburan bagi hatinya yang gundah. Dia mengerti bahwa meskipun Yehuwa membenci dosa, Dia tidak membenci si pedosa jika orang tersebut benar-benar bertobat dan meninggalkan haluannya yang berdosa. Dengan kepercayaan penuh akan kesediaan Yehuwa untuk mengulurkan belas kasihan kepada orang-orang yang bertobat, Daud berkata, ”Engkau . . . siap mengampuni, oh Yehuwa.”​—Mazmur 865. 2 Jika berbuat dosa, kita juga mungkin menanggung beban yang mengimpit berupa hati nurani yang tersiksa. Penyesalan yang mendalam ini bermanfaat. Perasaan demikian dapat menggerakkan kita untuk mengambil langkah-langkah positif guna mengoreksi kesalahan kita. Akan tetapi, ada bahaya dikuasai oleh perasaan bersalah. Hati kita yang suka mempersalahkan diri mungkin berkukuh bahwa Yehuwa tidak akan mengampuni kita, tidak soal seberapa dalam pertobatan kita. Jika kita ”terlalu sedih”, Setan dapat berupaya membuat kita menyerah, merasa bahwa Yehuwa memandang kita sebagai orang yang tidak berharga, tidak pantas melayani Dia.​—2 Korintus 25-11. 3 Apakah memang demikian pandangan Yehuwa? Sama sekali bukan! Pengampunan adalah salah satu faset kasih Yehuwa yang besar. Dalam Firman-Nya, Dia meyakinkan kita bahwa jika kita memperlihatkan pertobatan yang tulus dan sepenuh hati, Dia bersedia mengampuni. Amsal 2813 Agar pengampunan Yehuwa tidak pernah kelihatan mustahil untuk kita peroleh, mari kita bahas mengapa dan bagaimana Dia mengampuni. Mengapa Yehuwa ”Siap Mengampuni” 4. Apa yang Yehuwa ingat sehubungan dengan sifat bawaan kita, dan bagaimana hal itu memengaruhi cara Dia memperlakukan kita? 4 Yehuwa mengetahui keterbatasan kita. ”Dia tahu betul bagaimana kita dibentuk, Dia ingat bahwa kita ini debu,” kata Mazmur 10314. Dia tidak lupa bahwa kita ini adalah makhluk dari debu, memiliki kelemahan akibat ketidaksempurnaan. Pernyataan bahwa Dia tahu ”bagaimana kita dibentuk” mengingatkan kita bahwa Alkitab menyamakan Yehuwa dengan seorang perajin tanah liat dan kita dengan wadah tanah liat yang Dia bentuk. Yeremia 182-6 Sang Perajin Tanah Liat Agung menyesuaikan cara Dia memperlakukan kita menurut kelemahan sifat bawaan kita yang berdosa dan menurut gagal tidaknya kita menanggapi bimbingan-Nya. 5. Bagaimana buku Roma menggambarkan cengkeraman dosa yang sangat kuat? 5 Yehuwa memahami betapa berkuasanya dosa. Firman-Nya menggambarkan dosa sebagai kekuatan perkasa yang mencekal manusia dalam cengkeraman mautnya. Sebenarnya, seberapa kuatkah cengkeraman dosa? Di buku Roma, Rasul Paulus menjelaskan Kita ”dikuasai dosa”, seperti para prajurit berada di bawah komandan mereka Roma 39; dosa telah ”berkuasa” atas manusia bagaikan raja Roma 521; dosa ada di ”dalam diri” kita Roma 717, 20; ”hukum”-nya senantiasa bekerja dalam diri kita, pada dasarnya mencoba mengendalikan haluan kita. Roma 723, 25 Sungguh kuat cengkeraman dosa atas daging kita yang tidak sempurna ini!​—Roma 721, 24. 6, 7. a Bagaimana Yehuwa memandang orang yang mencari belas kasihan-Nya dengan hati yang penuh penyesalan? b Mengapa kita hendaknya tidak menyalahgunakan belas kasihan Allah? 6 Oleh karena itu, Yehuwa tahu bahwa ketaatan yang sempurna mustahil bagi kita, tidak soal seberapa sungguh-sungguh kita ingin memberikan hal itu kepada-Nya. Dia dengan pengasih meyakinkan kita bahwa apabila kita mencari belas kasihan-Nya dengan hati yang penuh penyesalan, Dia akan mengulurkan pengampunan. Mazmur 5117 mengatakan, ”Korban yang Allah senangi adalah hati yang hancur; hati yang pedih dan hancur, oh Allah, tidak akan Engkau tolak.” Yehuwa tidak akan pernah menampik, atau menolak, hati yang ”pedih dan hancur” oleh beban perasaan bersalah. 7 Namun, apakah ini berarti bahwa kita dapat menyalahgunakan belas kasihan Allah, menggunakan sifat bawaan kita yang berdosa sebagai dalih untuk berbuat dosa? Tentu saja tidak! Yehuwa tidak semata-mata mengikuti perasaan. Belas kasihan-Nya mempunyai batas. Dia sama sekali tidak akan mengampuni orang yang berkeras mempraktekkan dosa dengan sengaja, tanpa sedikit pun menunjukkan pertobatan. Ibrani 1026 Sebaliknya, sewaktu Dia melihat hati yang penuh penyesalan, Dia siap mengampuni. Sekarang, mari kita perhatikan beberapa ungkapan ekspresif yang digunakan dalam Alkitab untuk melukiskan faset yang menakjubkan dari kasih Yehuwa ini. Seberapa Tuntaskah Yehuwa Mengampuni? 8. Sewaktu mengampuni dosa-dosa kita, Yehuwa seolah-olah melakukan apa, dan hal itu memberi kita keyakinan apa? 8 Daud yang bertobat berkata, ”Akhirnya aku mengakui dosaku kepada-Mu; aku tidak menutupi kesalahanku. . . . Dan Engkau mengampuni kesalahan dan dosaku.” Mazmur 325 Kata ”mengampuni” adalah terjemahan sebuah kata Ibrani yang pada dasarnya berarti ”mengangkat” atau ”memikul”. Penggunaannya di sini berarti menyingkirkan ”perasaan bersalah, kelaliman, dan pelanggaran”. Jadi, Yehuwa seolah-olah mengangkat dosa-dosa Daud dan membawa semuanya itu pergi. Hal itu pasti meringankan perasaan bersalah yang Daud tanggung. Mazmur 323 Kita pun dapat memiliki keyakinan penuh akan Allah yang menyingkirkan dosa orang-orang yang mencari pengampunan-Nya berdasarkan iman mereka akan korban tebusan Yesus.​—Matius 2028. 9. Seberapa jauh dari kita Yehuwa meletakkan dosa-dosa kita? 9 Daud menggunakan ungkapan yang hidup lainnya untuk menggambarkan pengampunan Yehuwa, ”Sejauh matahari terbit dari matahari terbenam, sejauh itulah pelanggaran kita Dia jauhkan dari kita.” Mazmur 10312 Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Seberapa jauhkah timur dari barat? Dalam arti tertentu, timur selalu berada pada jarak yang paling jauh dari barat; kedua titik tersebut tidak akan pernah bertemu. Seorang pakar mengomentari bahwa ungkapan tersebut berarti ”sejauh mungkin; sejauh yang dapat kita bayangkan”. Kata-kata Daud yang terilham memberi tahu kita bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni, Dia meletakkan dosa-dosa kita sejauh mungkin dari kita, sejauh yang dapat kita bayangkan. ”Dosa-dosa kalian . . . akan dibuat seputih salju” 10. Sewaktu Yehuwa mengampuni dosa-dosa kita, mengapa kita hendaknya tidak merasa bahwa noda dosa-dosa itu akan terus melekat pada diri kita sepanjang sisa hidup kita? 10 Pernahkah Saudara mencoba menghilangkan noda dari pakaian yang berwarna cerah? Barangkali, meski Saudara sudah berusaha mati-matian, noda itu tetap ada. Perhatikan bagaimana Yehuwa menggambarkan kesanggupan-Nya untuk mengampuni, ”Walau dosa-dosa kalian semerah darah, itu akan dibuat seputih salju; walau itu semerah kain kirmizi, itu akan dibuat seputih wol.” Yesaya 118, catatan kaki ’Merah darah’ berarti warna merah cerah. a ’Merah kirmizi’ adalah salah satu warna gelap pada bahan yang diwarnai. Nahum 23, catatan kaki Dengan upaya sendiri, kita tidak akan pernah dapat menghilangkan noda dosa. Tetapi, Yehuwa dapat membuat dosa yang seperti warna merah darah dan kirmizi menjadi putih seperti salju atau wol yang tidak diwarnai. Sewaktu Yehuwa mengampuni dosa-dosa kita, kita tidak perlu takut kalau-kalau noda dosa-dosa itu akan terus melekat pada diri kita sepanjang sisa hidup kita. 11. Dalam arti apa Yehuwa melemparkan dosa-dosa kita ke belakang-Nya? 11 Dalam nyanyian syukur yang menggugah hati yang digubahnya setelah luput dari penyakit yang mematikan, Hizkia berkata kepada Yehuwa, ”Engkau telah melemparkan semua dosaku ke belakang-Mu.” Yesaya 3817 Di ayat itu, Yehuwa digambarkan seolah-olah mengambil dosa-dosa si pelaku kesalahan yang bertobat dan melemparkan semuanya itu ke belakang-Nya sehingga Dia tidak melihat ataupun memperhatikannya lagi. Menurut sebuah sumber, gagasannya mungkin dapat dinyatakan seperti ini, ”Engkau telah membuat seolah-olah semua dosaku tidak pernah terjadi.” Tidakkah hal itu menenteramkan hati? 12. Bagaimana Nabi Mikha memperlihatkan bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni, Dia menyingkirkan dosa-dosa kita secara permanen? 12 Dalam sebuah janji mengenai pemulihan, Nabi Mikha menyatakan keyakinannya bahwa Yehuwa akan mengampuni umat-Nya yang bertobat, ”Adakah Allah yang seperti Engkau, . . . mengabaikan pelanggaran orang-orang yang tersisa dari bangsa milik-Nya? . . . Engkau akan melemparkan semua dosa mereka ke laut yang dalam.” Mikha 718, 19 Bayangkan apa makna kata-kata tersebut bagi mereka yang hidup pada zaman Alkitab. Apakah ada peluang untuk menemukan sesuatu yang telah dicampakkan ”ke laut yang dalam”? Jadi, kata-kata Mikha memperlihatkan bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni, Dia menyingkirkan dosa-dosa kita secara permanen. 13. Apa arti kata-kata Yesus ”Ampunilah dosa [atau, ”utang”] kami”? 13 Yesus menggunakan hubungan antara pemberi utang dan orang yang berutang untuk menggambarkan pengampunan Yehuwa. Yesus mendesak kita untuk berdoa, ”Ampunilah dosa [atau, ”utang”] kami.” Matius 612, juga catatan kaki Jadi, Yesus menyamakan dosa dengan utang. Lukas 114, catatan kaki Sewaktu berbuat dosa, kita menjadi ”orang yang berutang” kepada Yehuwa. Sehubungan dengan arti kata kerja Yunani yang diterjemahkan ’mengampuni’, sebuah karya referensi mengatakan, ”Merelakan, melepaskan, suatu utang, dengan tidak menuntutnya.” Dengan kata lain, sewaktu Yehuwa mengampuni, Dia membatalkan utang yang seharusnya dibebankan kepada kita. Dengan demikian, para pedosa yang bertobat dapat terhibur. Yehuwa tidak akan pernah menuntut pembayaran untuk utang yang telah Dia batalkan!​—Mazmur 321, 2. 14. Frasa ”dosa-dosa kalian dihapus” menimbulkan gambaran mental apa? 14 Pengampunan Yehuwa lebih jauh dilukiskan di Kisah 319, ”Jadi bertobatlah, dan berbaliklah agar dosa-dosa kalian dihapus.” Kata terakhir dalam ayat itu merupakan terjemahan sebuah kata kerja Yunani yang dapat berarti ”menyingkirkan, . . . membatalkan atau memusnahkan”. Menurut beberapa pakar, ungkapan kiasan yang digunakan adalah ungkapan untuk menghapus tulisan tangan. Bagaimana mungkin? Tinta yang umum digunakan pada zaman dahulu terbuat dari campuran bahan-bahan seperti arang, getah, dan air. Segera setelah menggunakan tinta semacam itu, seseorang dapat mengambil spons basah dan menghapus tulisannya. Di sini terkandung gambaran yang bagus sehubungan dengan belas kasihan Yehuwa. Sewaktu Dia mengampuni dosa-dosa kita, halnya seolah-olah Dia mengambil spons dan menghapusnya. 15. Apa yang Yehuwa inginkan untuk kita ketahui tentang Dia? 15 Sewaktu kita merenungkan beragam ungkapan tersebut, tidakkah jelas bahwa Yehuwa menginginkan kita mengetahui bahwa Dia benar-benar siap mengampuni dosa-dosa kita asalkan Dia melihat pertobatan kita yang tulus? Kita tidak perlu takut kalau-kalau di kemudian hari Dia akan mengungkit-ungkit dosa-dosa kita. Hal tersebut diperlihatkan oleh fakta lain yang Alkitab singkapkan berkenaan dengan belas kasihan Yehuwa yang besar Ketika Dia mengampuni, Dia melupakan. Yehuwa ingin kita tahu bahwa Dia ”siap mengampuni” ”Dosa Mereka Tidak Akan Kuingat Lagi” 16, 17. Sewaktu mengatakan bahwa Yehuwa melupakan dosa-dosa kita, apa yang Alkitab maksudkan, dan mengapa Saudara menjawab demikian? 16 Sehubungan dengan mereka yang berada dalam perjanjian baru, Yehuwa berjanji, ”Kesalahan mereka akan Kuampuni dan dosa mereka tidak akan Kuingat lagi.” Yeremia 3134 Apakah ini berarti bahwa sewaktu Yehuwa mengampuni, Dia tidak bisa lagi mengingat dosa-dosa kita? Itu tidak mungkin. Alkitab memberi tahu kita tentang dosa banyak orang yang Yehuwa ampuni, termasuk Daud. 2 Samuel 111-17; 1213 Yehuwa tentu masih ingat akan kekeliruan yang mereka perbuat. Catatan tentang dosa serta pertobatan mereka dan pengampunan oleh Allah, telah dilestarikan demi manfaat kita. Roma 154 Kalau begitu, apa yang Alkitab maksudkan sewaktu mengatakan bahwa Yehuwa tidak ’mengingat’ dosa orang-orang yang Dia ampuni? 17 Kata kerja Ibrani yang diterjemahkan menjadi ”tidak akan Kuingat lagi” menyiratkan lebih dari sekadar mengenang masa lalu. Theological Wordbook of the Old Testament mengomentari bahwa kata ini mencakup ”makna tambahan mengambil tindakan yang setimpal”. Jadi, dalam arti ini, ’mengingat’ dosa mencakup mengambil tindakan terhadap para pedosa. Hosea 99 Akan tetapi, sewaktu Allah mengatakan ”dosa mereka tidak akan Kuingat lagi”, Dia meyakinkan kita bahwa sekali Dia mengampuni para pedosa yang bertobat, di kemudian hari Dia tidak akan mengambil tindakan terhadap mereka karena dosa-dosa tersebut. Yehezkiel 1821, 22 Dengan demikian, Yehuwa melupakan dalam arti Dia tidak akan mengungkit-ungkit dosa-dosa kita dengan maksud terus-menerus mendakwa atau menghukum kita. Tidakkah kita terhibur karena tahu bahwa Allah kita mengampuni dan melupakan? Bagaimana dengan Konsekuensinya? 18. Mengapa pengampunan tidak berarti bahwa seorang pedosa yang bertobat dibebaskan dari segala konsekuensi haluannya yang salah? 18 Apakah kesediaan Yehuwa untuk mengampuni berarti bahwa seorang pedosa yang bertobat dibebaskan dari segala konsekuensi haluannya yang salah? Sama sekali tidak. Kita tidak dapat luput dari ganjaran atas dosa-dosa kita. Paulus menulis, ”Apa yang ditabur orang, itu jugalah yang dituainya.” Galatia 67 Kita mungkin menghadapi konsekuensi-konsekuensi tertentu dari tindakan kita. Hal itu tidak berarti bahwa setelah mengulurkan pengampunan, Yehuwa menyebabkan kesengsaraan menimpa kita. Sewaktu timbul masalah, seorang Kristen jangan merasa, ’Barangkali Yehuwa sedang menghukum saya atas dosa-dosa saya di masa lalu.’ Yakobus 113 Di pihak lain, Yehuwa tidak melindungi kita dari segala dampak tindakan kita yang salah. Perceraian, kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit lewat hubungan seks, kehilangan kepercayaan atau respek—semua ini dapat menjadi konsekuensi yang menyedihkan dan tak terhindarkan karena dosa. Ingatlah bahwa bahkan setelah mengampuni Daud atas dosa-dosanya sehubungan dengan Bat-syeba dan Uria, Yehuwa tidak melindungi Daud dari konsekuensi yang membawa bencana di kemudian hari.​—2 Samuel 129-12. 19-21. a Bagaimana hukum yang dicatat di Imamat 61-7 memberikan manfaat bagi si korban maupun si pelanggar? b Jika orang lain disakiti oleh dosa-dosa kita, Yehuwa disenangkan apabila kita mengambil tindakan apa? 19 Dosa-dosa kita dapat memiliki konsekuensi tambahan, khususnya apabila orang lain disakiti oleh tindakan kita. Misalnya, pertimbangkan kisah di Imamat pasal 6. Hukum Musa yang tertera di sana membahas situasi seseorang yang melakukan kesalahan serius, yakni merampas harta benda sesama orang Israel dengan mencuri, memeras, atau menipu. Si pedosa kemudian menyangkal bahwa dia bersalah, bahkan berani bersumpah palsu. Dalam kasus ini, keterangan satu pihak bertentangan dengan keterangan pihak yang lain. Akan tetapi, belakangan si pelanggar tersiksa oleh hati nuraninya dan mengakui dosanya. Guna memperoleh pengampunan Allah, dia harus melakukan tiga hal lagi mengembalikan apa yang telah dia ambil, membayar denda kepada si korban sebesar 20 persen dari nilai benda yang dicuri, dan mempersembahkan seekor domba jantan sebagai persembahan kesalahan. Kemudian, hukum mengatakan, ”Imam akan membuat pendamaian bagi dia di hadapan Yehuwa, dan [dia] akan diampuni.”​—Imamat 61-7. 20 Hukum tersebut merupakan suatu pengaturan yang berbelaskasihan dari Allah. Hukum itu memberikan manfaat kepada si korban, yang miliknya dikembalikan dan yang pasti merasa sangat lega sewaktu si pelanggar akhirnya mengakui dosanya. Pada waktu yang sama, hukum itu memberikan manfaat kepada orang yang akhirnya tergugah oleh hati nuraninya untuk mengakui kesalahannya dan mengoreksi kekeliruannya. Memang, jika dia menolak melakukannya, dia tidak akan mendapat pengampunan dari Allah. 21 Meskipun kita tidak berada di bawah Hukum Musa, Hukum tersebut memberi kita pemahaman tentang pikiran Yehuwa, termasuk pandangan-Nya terhadap pengampunan. Kolose 213, 14 Jika orang lain disakiti oleh dosa-dosa kita, Allah disenangkan apabila kita melakukan sedapat mungkin untuk memperbaiki kesalahan. Matius 523, 24 Bisa jadi, hal itu mencakup mengakui dosa kita, mengakui kesalahan kita, dan bahkan meminta maaf kepada si korban. Kemudian, kita dapat memohon pengampunan dari Yehuwa berdasarkan korban Yesus dan memiliki keyakinan bahwa kita telah diampuni Allah.​—Ibrani 1021, 22. 22. Apa yang mungkin menyertai pengampunan Yehuwa? 22 Seperti halnya semua orang tua yang pengasih, Yehuwa mungkin memberikan pengampunan disertai disiplin tertentu. Amsal 311, 12 Seorang Kristen yang bertobat mungkin harus melepaskan tugasnya untuk melayani sebagai penatua, hamba pelayanan, atau penginjil sepenuh waktu. Bisa jadi dia akan merasa sedih karena selama beberapa waktu kehilangan tugas yang sangat berharga baginya. Akan tetapi, disiplin demikian tidak berarti bahwa Yehuwa telah menahan pengampunan. Kita harus ingat bahwa disiplin dari Yehuwa merupakan bukti kasih-Nya kepada kita. Menerima dan menerapkannya adalah demi kepentingan terbaik kita.​—Ibrani 125-11. 23. Mengapa kita jangan pernah menyimpulkan bahwa belas kasihan Yehuwa tidak dapat menjangkau kita, dan mengapa kita hendaknya meniru pengampunan-Nya? 23 Sungguh menyegarkan untuk tahu bahwa Allah kita ”siap mengampuni”! Meskipun kita mungkin pernah membuat kesalahan-kesalahan, jangan pernah menyimpulkan bahwa belas kasihan Yehuwa tidak dapat menjangkau kita! Jika kita benar-benar bertobat, mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kesalahan, dan sungguh-sungguh berdoa meminta pengampunan berdasarkan darah Yesus yang tercurah, kita dapat yakin sepenuhnya bahwa Yehuwa akan mengampuni kita. 1 Yohanes 19 Marilah kita meniru pengampunan-Nya dalam cara kita memperlakukan satu sama lain. Jika Yehuwa saja, yang tidak berdosa, dapat dengan begitu pengasih mengampuni kita, mengapa kita, manusia yang berdosa, tidak berupaya sebisa-bisanya untuk mengampuni satu sama lain?
Puji Astuti Official Writer 3156 Kolose 313 "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 31; 1 Tesalonika 3; Yesaya 15-16 Kita bisa mengampuni karena kita telah diampuni oleh Tuhan. Tuhan menginginkan kita untuk menunjukkan rahmat atau belas kasihan kepada orang lain karena Dia telah menunjukkan rahmat-Nya kepada kita. Dia menunjukkan kasihnya dengan mengirimkan Kristus untuk mati bagi kita, meskipun kita masih memberontak kepadanya Roma 5 8. Namun kita lebih sering menunjukkan sikap egois dan menuntut daripada bersikap ramah dan murah hati kepada sesama. Sebagai contoh saat Anda menunggu di kasir yang Anda anggap bekerja lambat di toko grosir sebagai gangguan daripada sebagai seseorang yang mungkin berjuang untuk mempertahankan pekerjaannya, seseorang yang baru saja mendapat kabar terburuk dalam hidupnya beberapa menit sebelumnya. Anda melihat seseorang dalam keluarga Anda sebagai orang bermasalah daripada melihatnya sebagai seseorang yang sedang berjuang menghadapi keputusasaan dan kebingungan dalam hidupnya. Atau saat Anda melihat orang yang memotong kendaraan Anda di jalan bebas hambatan sebagai penjahat alih-alih seseorang yang membutuhkan kasih Tuhan. Tetapi fakta yang harus sama-sama kita ketahui adalah semua orang membutuhkan kasih Tuhan. Itulah sebabnya Yesus Kristus datang ke dunia ini. Itu sebabnya kita harus menunjukkan kepada orang lain, kasih karunia untuk manjadi mengingat bagi kita apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Cara pamungkas Allah menunjukkan kepada kita anugerah-Nya adalah dengan pengampunan. Dan cara utama Dia meminta kita untuk menunjukkan kasih karunia kepada orang lain juga dengan mengampuni mereka. Orang sering bertanya kepada saya, “Bagaimana saya bisa menemukan kekuatan untuk memaafkan? Saya tidak memilikinya di dalam diri saya. " Yang benar adalah, aku juga tidak memilikinya! Satu-satunya tempat bagi saya untuk menemukan kekuatan untuk mengampuni adalah mengingat betapa Yesus telah mengampuni saya. Melalui pengingat itulah, Dia memberi saya kekuatan dan rahmat untuk memaafkan orang lain. Ada sebuah kisah tentang seorang wanita bernama Clara Barton, yang mendirikan Palang Merah Amerika. Seorang teman mengingatkannya akan hal kejam yang dilakukan seseorang terhadapnya bertahun-tahun sebelumnya. Teman itu bertanya, "Kamu tidak ingat?" Jawabannya yang terkenal adalah, "Tidak, saya ingat dengan jelas telah melupakannya." Apa yang perlu kamu lupakan? Siapa yang perlu Anda maafkan? Jika Anda tidak memaafkan, Anda tidak akan dapat menikmati berkat Tuhan selama sisa hidup Anda karena Anda akan terjebak di masa lalu. Tetapi ketika Anda memaafkan, Anda akan bisa melanjutkan hidup Anda. Pengampunan bukan berarti orang yang melakukan kesalahan pada Anda menjadi benar. Dan itu tidak membuat apa yang dilakukan orang itu baik-baik saja. Anda bisa memaafkan, dan mereka masih bisa menghadapi konsekuensi atas apa yang terjadi. Ketika memaafkan seseorang tampaknya mustahil, ingat satu hal Yesus sudah mengampuni Anda. Kamu sedang dalam pergumulan dan butuh dukungan doa? Klik link dibawah ini untuk terhubung dengan tim doa kami Kamu butuh teman curhat dan membutuhkan pertolongan Tuhan? Klik link dibawah ini untuk konseling dengan konselor kami
apa artinya mengampuni seperti allah telah melakukannya untuk kita